Sering Dialami Anak, Ini Pentingnya Mendeteksi Skoliosis Sejak Dini!

  • Whatsapp
Sering-Dialami-Anak-Ini-Pentingnya-Mendeteksi-Skoliosis-Sejak-Dini
Foto dari Canva Pro

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setidaknya 3% warga dunia rentan mengalami skoliosis. Di Indonesia, tingkat prevalensinya mencapai 3% hingga 5%. Sayangnya, belum semua orang menyadari risiko dari penyakit tersebut. Padahal, dengan mengenali gejala-gejalanya sejak dini.

Ancaman skoliosis sejak dini

Secara garis besar, skoliosis terjadi saat tulang belakang melengkung dan membentuk huruf C atau S. Dilansir pada laman Investor, Dokter spesialis Ortopedi dari Rumah Sakit Siloam Bogor dr. Peterson S Sp.OT(K) menambahkan bahwa gangguan tulang belakang tersebut justru lebih rentan dialami anak-anak sebelum memasuki pubertas atau saat berusia 10 sampai 15 tahun. Jika dibiarkan, skoliosis akan menimbulkan efek samping yang menyerang organ lain seperti jantung dan paru-paru.

Read More

Di sisi lain, mengenali tanda-tanda skoliosis pada anak relatif mudah dilakukan. dr. Peterson menyarankan para orang tua untuk menempatkan anak-anaknya di ruangan luas dan sepi. Pastikan juga ruangan tersebut dapat menjaga privasinya dari pandangan orang asing. Kemudian, minta mereka melepas baju dan celana, lalu berdiri tegak. Sementara orang tua mengambil posisi di belakang punggung anak, lalu beralih ke depan mereka.

Selanjutnya, minta anak membungkuk. Dari sini, Anda bisa memeriksa kesejajaran bahu kedua sisi, tonjolan tulang belikat, lipatan punggung, siku, dan pinggul. Kalau menemukan tanda asimetris atau ketidakseimbangam komposisi, maka Anda perlu melakukan pemeriksaan lanjut. Terutama bila tanda-tanda tersebut berada di bagian punggung, bahu, dan tulang pinggul.

Ketika pasien dibawa ke rumah sakit atau klinik tulang belakang, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan dengan x-ray untuk mendeteksi kondisi tulang belakang anak. Dengan begitu, mereka dapat memberikan penanganan yang sesuai agar skoliosis tak bertambah parah saat anak beranjak dewasa. Dokter pun bakal menganjurkan pengobatan atau pemulihan untuk memperbaiki postur tubuh, meredakan nyeri, hingga ketidakseimbangan otot.

Operasi sebagai penanganan skoliosis

Selain melalui terapi, operasi menjadi salah satu metode yang diambil untuk mengatasi skoliosis, terutama pada kasus yang lebih parah. Akan tetapi, tak semua skoliosis harus ditangani dengan cara tersebut. Pasalnya, ada dua penanganan lain yang dapat dilakukan, yakni observasi dan pemasangan brace.

Observasi dilakukan pada lengkungan tulang belakang membentuk sudut di bawah 30 derajat. Pasien lantas disarankan melakukan latihan seperti stretching agar otot tetap seimbang. Sementara pada tulang belakang yang sudah melengkung hingga lebih dari 30 derajat, pasien akan diberikan brace atau ortosis. Sementara operasi dilaksanakan saat sudut berada di atas 40 derajat dan menghambat aktivitas pasien.

Dalam hal ini, deteksi dini lebih dianjurkan karena selain meningkatkan peluang kesembuhan, pasien skoliosis tidak perlu mengeluarkan biaya besar yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan operasi.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *